Cara membuat rangkuman
Langkah-langkah yang dilakukan dalam membuat rangkuman buku fiksi maupun nonfiksi adalah sebagai berikut.
Dokumen Penulis
1. Membaca teks asli atau mendengarkan naskah yang dibacakan.
Dengan membaca maka kita akan mengetaui informasi yang ada di dalamnya. Dalam merangkum, membaca adalah kegiatan pokok utama yang harus dilakukan sebelum membuat rangkuman. Hal ini akan memudahkan kita untuk mengingat, memahami, dan mengerti akan isi naskah. Sehingga akan mempermudah ketika membuat rangkuman.
2. Tentukan ide pokok pada tiap paragraf.
Pada tahap kedua, setelah membaca teks atau mendengarkan isi teks, selanjutnya ialah menentukan gagasan atau ide poko para tiap-tiap paragraf (naskah teks) atau menentukan isi pokok dari naskah yang dibacakan. Setelah memperoleh ide pokok, rangkuman dapat dibuat dengan mengembangkan ide pokok dengan bahasa sendiri (bahasa yang lebih sederhana) dibanding dengan teks. Biasanya buku-buku teks pelajaran menggunakan bahasa yang sulit dipahami.
3. Menulis rangkuman.
Setelah memahami isi teks dan menentukan ide pokok, langkah selanjutnya ialah membuat rangkuman. Ingat, rangkuman adalah ringkasan. Cara merangkum adalah dengan menulis ide pokok yang dari setiap paragraf.
4. Membaca kembali rangkuman yang telah dibuat.
Setelah selesai membuat rangkuman, maka bacalah kembali rangkuman tersebut. Hal ini untuk mengantisipasi adanya ide pokok atau informasi penting lainnya yang belum ditulis.
5. Hubungan Antarunsur Buku Fiksi atau Nonfiksi
Dengan mengamati setiap unsur yang yang terkandung di dalam buku fiksi dan nonfiksi, kita dapat menyimpulkan bahwa sebagian unsur memiliki kesamaan dan sebagian yang lain berbeda. Unsur yang samasama dimiliki baik buku fiksi maupun buku nonfiksi yaitu: sampul, subbab, dan judul subbab. Dalam hal perbedaan, buku nonfiksi memiliki isi yang ilmiah, aktual, dan faktual, disajikan dengan bahasa baku, dan memiliki sistematika penulisan standar.
Sedangkan buku fiksi memiliki tokoh dan penokohan sebagai pelaku cerita, didukung dengan tema, disajikan dengan bahasa variatif (biasanya tidak baku), dan dilengkapi dengan alur cerita yang beraneka ragam.
6. Contoh Penyusunan Tanggapan
Pertama, membaca buku.
Siswa, mahasiswa, atau siapa pun yang berkecimpung dalam menyusun tanggapan buku sebaiknya telah membaca seluruh isi buku dengan penuh ketelitian dan kecermatan sehingga mudah untuk menangkap makna yang terkandung di dalam buku tersebut. Hal ini menjadi pondasi utama sebelum melakukan proses selanjutnya. Melalui tahapan ini pula, pembentukan kerangka berpikir dimulai dan topik-topik yang menjadi perhatian telah tergambar secara garis besar di dalam memori. Oleh karena itu, seorang penyusun tanggapan buku atau resensi membutuhkan waktu yang cukup untuk benar-benar menyatu dengan isi buku seolah-olah telah hadir dalam ritme kata demi kata dan lembar demi lembar pada buku yang dibaca.
Kedua, menentukan unsur-unsur tanggapan buku.
Di bagian ini, seorang penyusun tanggapan buku perlu memutuskan unsur-unsur buku yang akan dijadikan acuan tanggapan meliputi meliputi kelebihan atau keunggulan buku, kelemahan atau kekurangan buku, gaya bahasa, struktur kalimat, ejaan, diksi (pilihan kata), dan ilustrasi. Setelah itu, membuat anotasi (catatan kecil) berupa poin-poin inti di setiap unsur buku. Kemudian, mengembangkan seluruh poin-poin anotasi menjadi paragraf lengkap yang utuh dengan memperhatikan kohesi dan koherensi bahasa yang digunakan.
Ketiga, melakukan penyuntingan.
Setelah seluruh tanggapan selesai disusun, maka proses penyuntingan dapat dilakukan. Hal ini bertujuan untuk memeriksa kembali kesempurnaan penulisan. Tentu dipahami bahwa tiada manusia yang benar-benar sempurna, begitu juga seorang pemberi tanggapan. Oleh karena itu, melalui kegiatan penyuntingan, segala kelemahan dalam penulisan dapat diperbaiki dan diedit sebaik mungkin sebagai tahapan finalisasi. Untuk hasil yang lebih baik, boleh juga meminta bantuan editing dari seorang ahli.
Seorang penulis buku bahkan tidak jarang meminta penulis-penulis lain atau pembacanya sendiri untuk memberi tanggapan objektif terhadap karya yang dibuatnya. Hasilnya, berawal dari sebuah buku tercipta sebuah karya baru berupa buku tanggapan yang bernilai jual.
Sebagai penutup, perlu diketahui bahwa tanggapan buku merupakan bagian terpenting dari resensi. Sedangkan resensi bersama dengan kritik sastra, esai, dan ringkasan termaktub sebagai hal yang dapat dilakukan untuk menilai keunggulan dan kelemahan karya sastra. Pembahasan lengkap untuk materi ini akan dibahas pada tulisan berikutnya.
7. Langkah Menyusun Tanggapan terhadap Buku yang Dibaca
a. Jenis Buku Jenis atau bentuk buku itu apakah roman, novel, biografi, atau yang lain. Selain itu seorang resentator menyebutkan juga buku termasuk buku fiksi atau nonfiksi.
b. Keaslian Ide Buku itu apakah benar-benar merupakan karya asli dari pengarangnya atau merupakan jiplakan dari buku lain yang pernah terbit.
c. Bentuk Bagaimana mengenai bentuk atau format dari buku itu. Apakah bentuknya, kertas, ilustrasi sampul, jenis huruf yang dipakai, dan sebagainya.
d. Isi dan Bahasa Dilihat dari segi isi, resentator perlu memperhatikan unsur-unsur intrinsiknya, yaitu tentang tema, alur, perwatakan, latar, dan sudut pandang.
Bahasa dalam buku itu dapat ditinjau dari segi struktur kalimat, gaya bahasa (style), ungkapan, dan lain-lain. Apakah bahasa yang digunakan memakai bahasa sehari-hari yang segar tidak menjemukan, mudah dimengerti oleh pembaca, dan sebagainya. Mudah dipahami atau sukar diterima pembaca. Pengujian materi mendapat perhatian juga dari resentator.

Komentar
Posting Komentar